161 Anak Alami Stunting di Kota Jambi, Pemenuhan Gizi dan Pemerataan Infrastruktur Jadi Fokus Pemerintah

Sekda Kota Jambi, Budidaya saat pencanangan Pemberian Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di Kota Jambi beberapa waktu lalu. 

LAMPUKUNING.ID,KOTA JAMBI – Pemerintah Kota Jambi, Provinsi Jambi hingga kini terus berupaya menurunkan angka stunting (kondisi anak gagal tumbuh, baik fisik maupun otaknya akibat kekurangan gizi) pada balita dan anak di wilayah Kota Jambi. Berdasarkan data tahun 2021, dari 27.615 anak di Kota Jambi, sebanyak 161 anak mengalami stunting.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jambi, Suhendri mengatakan bahwa pemerintah kota Jambi sudah memetakan 11 kecamatan rawan stunting yang ada di wilayah kota Jambi.

Bacaan Lainnya

“Kita sudah melakukan rembuk stunting di kota Jambi. Kita juga sudah memetakan kelurahan mana saja yang masuk ke dalam zona merah, zona kuning dan zona hijau. Jadi, berdasarkan variabel-variabel itu kita langsung bergerak. Misalnya di Kelurahan A kondisi sanitasinya kurang baik, maka itu akan dibenahi oleh dinas terkait. Begiu juga misalnya air bersihnya tidak tersedia, maka pemerintah akan memberikan pelayanan air bersih. Jadi program yang diluncurkan itu tergantung dengan variabel apa yang dibutuhkan. Sehingga tepat dan bisa langsung tertuju kepada masyarakat,” kata Suhendri di Jambi, Minggu (19/9).

Menurutnya, masalah stunting menjadi perhatian serius dari pemerintah Kota Jambi, sebab mencakup  multi dimensi. Diantaranya mencakup masalah gizi yang kurang, pelayanan kesehatan, kemiskinan, ketidaktahuan, ketidakpedulian, lingkungan yang kurang baik, belum optimalnya infrastruktur air minum dan air bersih, dan lain sebagainya.

Suhendri menambahkan, penanganan stunting di Kota Jambi terbagi dalam dua kategori, yaitu kategori spesifik dan sensitif. Untuk kategori spesifik dilakukan oleh dinas kesehatan berdasarkan analisis situasi. Misalnya seperti penyuluhan kepada ibu hamil, pemberian makanan tambahan, dan lainnya. Sementara kategori sensitif dilakukan oleh berbagai instansi. Misalnya pelayanan air bersih, sanitasi, lingkungan, infrastruktur, dan juga kemiskinan.

“Kemiskinan juga turut andil menjadi salah satu sebab terjadinya stunting. Karena kemiskinan itu, seseorang tidak bisa mengakses kesehatan, makanan yang bergizi dan sebagainya,” ujarnya.

Disisi lain, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Jambi juga terus aktif membina dan memberi penyuluhan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dan kader kelompok untuk mengasuh serta membina tumbuh kembang anak.

Kepala DPPKB Kota Jambi, Irawati Sukandar menyebutkan, dari data Dinkes Kota Jambi melalui hasil pendataan Puskesmas, tahun 2020 terdapat 179 kasus. Angka itu kemudian turun pada periode Januari-Mei 2021 menjadi 161 kasus.

“Kalau untuk data terbaru tahun ini belum ada, karena memang tenaga kesehatan masih di lapangan mendatanya. Kita juga masih menunggu hasilnya,” kata Irawati Sukandar.

Dia menjelaskan, Adapun upaya yang sudah dilakukan Pemkot Jambi seperti melalui kegiatan stimulasi fisik, mental, intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.

“Pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Upaya ini sangat diperlukan, mengingat stunting akan berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak dan status kesehatan pada saat dewasa nanti,” kata dia.

Menurut Irawati, faktor-faktor yang mempengaruhi stunting yakni, kurangnya asupan gizi awal dari hari pertama hamil. Atau tidak seimbangnya gizi yang dikonsumsi ibu hamil. Kemudian, paca lahir tidak diberikan Air Susu Ibu (ASI) secara esklusif sejak 0-6 bulan.

“Kalau lebih dari 6 (enam) bulan diberikan Makanan Pendamping (MP) ASI sesuai usianya. Faktor lain, seperti pola asuh dalam memberikan makan terhadap anak yang kurang diperhatikan. Terutama ibu yang bekerja, menyerahkan ke penjaga bayinya. Kalau tidak diperhatikan betul, pengasuh akan cepat-cepat saja memberikan makan anak tanpa memperhatikan gizi dan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, stunting dipengaruhi kondisi lingkungan yang tidak baik. Di saat anak usai bermain kotor dan tidak mencuci tangan lalu makan, maka di situlah kemudian virus berkembang dan dapat menyebabkan diare. “Nafsu makan berkurang juga bisa menjadi penyebab stunting,” katanya.

Ia mengatakan, selama ini Pemkot Jambi telah membentuk  tim koordinasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dikoordinir oleh Bappeda.

“Kalau untuk dinas kesehatan tentu intervensinya itu khusus kepada anaknya langsung. Kalau dari DPPKB itu lebih ke arah pencegahan. Jadi kita lebih menyasar ke ibu hamil atau keluarga yang memiliki balita di bawah 2 tahun yang kita sebut dengan seribu hari pertama kehidupan. Kemudian pada calon pengantin melalui kerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan nanti akan diberikan pemahaman atau edukasi terkait stunting,” katanya.

Senada, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi, Ida Yuliati mengatakan, di Kota Jambi sendiri sudah menetapkan lokus stunting di 10 Kelurahan.

“Untuk mengatasi stunting ini, kami ada pemicuan, kalau stunting itu kami ukur berat badannya, tinggi badan, dan lainnya. Kemudian kami berikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan), kemudian juga kami berikan asupan gizi berupa bahan makanan selama satu bulan. Misalnya kacang hijau, telur, dan diyakinkan yang makan itu adalah anak tersebut. Bukan anggota keluarganya yang lain, itu di monitor oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas terdekat,” kata Ida Yuliati.

Pihaknya juga rutin memberikan tablet darah, imunisasi pada pasangan remaja sebelum menikah, dan pemeriksaan ibu hamil secara berkala pada layanan kesehatan, serta memantau tumbuh kembang anak melalui kader-kader Posyandu.

Menurut Ida, kebanyakan kasus stunting di kota Jambi terjadi akibat ketidaktahuan masyarakat dan juga faktor kemiskinan.

“Jadi akibat ketidaktahuannya itu ibu hamil tidak memeriksakan kandungannya secara berkala ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Targetnya, dengan upaya yang terus di galakkan tersebut, angka stunting di Kota Jambi sesuai target nasional akan berkurang.

“Targetnya tentu nol di tahun 2024,” tambahnya.

Hal yang sama dikatakan Kepala Puskesmas, Paal Merah 1, Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi, dr. Repelita Witri. Stunting terjadi karena anak tidak mendapat asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya pada masa awal pertumbuhannya. Khususnya pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting dapat dicegah dengan memberikan asupan gizi yang cukup serta pola asuh anak yang benar.

“Pencegahan stunting juga bisa dilakukan dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kemudian memberikan ASI eksklusif kepada anak,” kata dr. Repelita Witri, Minggu (19/9).

Kata dia, Puskesmas sebagai garda terdepan dalam penurunan stunting di Kota Jambi. Pihaknya sendiri memiliki dua cara pendekatan kepada masyarakat, diantaranya adalah secara personal dan kelompok.

“Kita terus bergerak mengkampanyekan dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait stunting. Baik secara personal maupun melalui kelompok-kelompok seperti Posyandu, dan melalui Kelompok Peduli ASI. Jadi melalui kelompok-kelompok inilah nantinya yang akan meneruskan informasi kepada masyarakat luas,” katanya.

Repelita menceritakan pengalamannya sebagai kepala Puskesmas dalam menangani stunting. Menurutnya tahun 2020, ada terdapat 1 (satu) orang anak di wilayah kerjanya yang berstatus stunting.

“Alhamdulillah tahun 2021 ini tidak kita temukan,” katanya.

Menurutnya, pihaknya rutin memberikan suplemen-suplemen kepada anak yang berstatus stunting tersebut karena masih dalam masa pertumbuhan. Sehingga masih ada waktu untuk tumbuh dan berkembang.

“Jadi upaya kami adalah memberikan makanan tambahan seperti bubur, biskuit yang memiliki nilai gizi tinggi, kemudian itu kita pantau terus sampai pertumbuhannya sesuai dengan anak seusianya,” jelasnya. (LK07)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *