LAMPUKUNING.ID, TANJAB BARAT– Hidayah dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja. Di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan, sebuah langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik dimulai ketika seorang warga binaan Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal memantapkan hati untuk memeluk agama Islam.
Dengan penuh keteguhan, RH mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid At-Taubah Lapas Kuala Tungkal, Rabu (14/10/2026). Momen tersebut berlangsung khidmat, menjadi awal perjalanan spiritual yang diharapkan membawa ketenangan hati sekaligus semangat untuk memperbaiki diri.
Prosesi sakral ini difasilitasi oleh Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kementerian Agama Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pembacaan dua kalimat syahadat dipimpin oleh ustaz dari Kemenag Tanjab Barat.
Di hadapan para pendamping, ikrar keimanan itu menjadi penanda dimulainya lembaran baru dalam kehidupan RH. Sebuah perjalanan yang tidak hanya berkaitan dengan keyakinan, tetapi juga tentang harapan, keteguhan hati, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Usai prosesi syahadat, RH menjalani sirkumsisi atau khitan di Klinik Pratama Lapas Kuala Tungkal sebagai bagian dari tindak lanjut pembinaan keagamaan dan pelayanan kesehatan. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut mendapat dukungan dari pihak-pihak yang terlibat.
Kepala Lapas Kelas IIB Kuala Tungkal, Iwan Darmawan, mengatakan bahwa pembinaan terhadap warga binaan tidak hanya berfokus pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, penguatan moral, dan pendampingan spiritual.
Menurutnya, setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata kembali masa depannya. Karena itu, lapas berupaya memberikan ruang bagi mereka yang ingin mendalami agama dan membangun kehidupan yang lebih baik.
“Kami ingin memastikan setiap warga binaan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, termasuk melalui pembinaan spiritual. Kami berharap keputusan ini menjadi awal yang baik bagi yang bersangkutan untuk menjalani kehidupan dengan lebih positif. Terima kasih kepada Baznas, Kementerian Agama, dan tenaga kesehatan yang telah mendukung kegiatan ini,” ujarnya.
Sementara itu, RH mengungkapkan rasa syukur atas keputusan yang telah diambilnya. Ia berharap keimanannya dapat terus tumbuh dan dirinya mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik ke depannya.
“Saya bersyukur mendapatkan hidayah untuk memeluk agama Islam. Terima kasih kepada Lapas Kuala Tungkal, Baznas, dan Kementerian Agama Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang telah membantu saya. Semoga saya bisa istiqamah dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.
Kisah RH menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berubah selalu terbuka. Masa lalu mungkin menyisakan berbagai catatan kehidupan, tetapi harapan untuk melangkah ke arah yang lebih baik tidak seharusnya padam.
Dalam ajaran Islam, taubat, keikhlasan, dan ikhtiar memperbaiki diri merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba. Menjadi mualaf bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal untuk belajar, memahami ajaran agama, dan mengamalkannya secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembinaan keagamaan ini, Lapas Kuala Tungkal berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memperoleh bekal rohani untuk menghadapi masa depan. Dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu RH menjaga keistiqamahan serta membangun kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.
Sebab, di mana pun seseorang berada, harapan untuk berubah tetap memiliki tempat. Dan ketika hati mulai menemukan jalan untuk mendekat kepada Tuhan, setiap langkah kebaikan menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih bermakna. (LK10)









