
BUNGO – Bertambahnya pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bungo menjadikan masyarakat merasa cemas bahkan khawatir. Bahkan kekuatiran itu semakin menghantui, saat orang-orang ‘penting’di Kabupaten Bungo juga satu demi satu terkonfirmasi positif. Hal ini ditambah dengan kondisi politik di masa Pilkada ini. Saling serang di media sosial yang dikaitkan dengan Covid-19 semakin memperburuk psikologi masyarakat.
Pemerintah sebenarnya sudah terlihat sangat serius melakukan upaya terbaik. Semua komponen masyarakat juga mendukung upaya pencegahan agar tidak terlalu besar. Namun perkembangan jumlah pasien Covid-19 menjadikan masyarakat dihantui rasa cemas.
Pemerintah dan sebagian perusahaan di Bungo, saat ini menganjurkan untuk bekerja dari rumah. Namun ini juga tak serta merta menghilangkan rasa cemas masyarakat, karena tidak ada jaminan imun tubuh kita kuat atau tidak menghadapi virus ini. Bagi masyarakat yang bekerja sebagai karyawan tetap, mungkin bekerja di rumah tak menjadi persoalan yang berart.Tapi akan berbeda dengan masyarakat yang bekerja sebagai pedagang di pasar dan bekerja yang mengharuskan mereka beraktivitas di luar rumah.
Memang, Work Form Home (WFH) merupakan satu langkah pencegahan untuk mengurangi penularan Covid19. Karena dengan WFH, maka jelas interaksi antar pekerja akan berkurang, sehingga hal ini diharapkan bisa memutus rantai penularan Covid19.
Namun harus kita akui, WFH sangat rentan dengan perkembangan kreatifitas dan kejenuhan. Setiap hari yang biasanya bisa bekerja di kantor dan di luar rumah dan bebas berinteraksi, secara tiba-tiba berganti bekerja sendirian dan hanya ditemani laptop, komputer atau bahkan hanya ditemani gadget. Ini akan terasa bagi mereka yang bekerja di industri kreatif, semisal seniman, designer, videographer atau photographer. WFH jelas menghambat kreatifitasnya dalam bekerja.
Begitu juga saya.Saya mengalami hal tersebut. Saya yang bekerja sebagai videographer dan editor merasakan langsung dampak tersebut. Akibat terlalu sering mengkhawatirkan penularan virus Corona, hal tersebut membuat saya cemas berlebihan, akibatnya untuk bekerja saja saya diselimuti rasa cemas dan tidak bisa mengembangkan kreatifitas kedalam pekerjaan saya.
Buntunya kreatifitas ini terkadang diperparah dengan berita yang banyak beredar, utamanya di media sosial. Berita yang kadang belum tentu benar dan salahnya banyak berseliweran. Terkadang dari judulnya saja, kita terbayang hal yang menakutkan. Dari berita-berita ini, terkadang yang membuat kita seakan-akan merasakan bahwa kita juga ikut terpapar Covid-10. Ini menyebabkan rasa khawatir dan kecemasan yang berlebihan.
Meskipun pada akhirnya saya bekerja dari rumah, namun rasa khawatir tetap saja muncul. Karena tak semua anggota keluarga yang dirumah juga bekerja di rumah. Keperluan untuk keluarga mau tak mau harus dicari di luar rumah. Maka potensi terpapar juga masih terbuka. Maka dari itu, saya selalu mengingatkan pentingnya jaga jarak, utamanya dengan orang asing, atau orang yang jarang berinteraksi dengan kita adalam kehidupan sehari-hari.
Seiring perjalanan waktu, membaca berita tentang Covid-19 dan berita tak jelas di media sosial hanya akan memburuk kondisi psikologi. Maka saya putuskan untuk fokus pada pekerjaan dan kuajiban di keluarga dan mengesampingkan berita-berita yang berbau Covid-19. Karena diakui atau tidak, sejauh ini, belum banya berita tentang Covid-19 yang menggembirakan. Kecederungan berita yang beredar hanya akan menambah rasa kecemasan.
Dengan kondisi ini,berapa hal mesti lakukan untuk mengembalikan semangat dalam bekerja dari rumah. Pikiran yang positif dan semangat dalam bekerja harus selalu terjaga, karena mental kita tidak boleh down di saat krusial seperti ini. Selalu berfikir jernih dan positif mutlak harus dilakukan,siapapun kita, agar semua masalah yang timbul bisa ditangani dengan baik.
Salah satunya dengan memanfaatkan media internet dengan baik dan bijak. Lalu kita juga bisa menggunakan medsos untuk berbagi hasil karya dan atau berbagi tutorial agar kita bisa lebih fokus pada karya, bukan memperburuk kondisi karena banyak membaca perkembangan penambahan pasiean Covid-19. (*)
Penulis: Supriyanto






