Trans Koja Stop Operasional, DPRD Sayangkan Perusahaan Tak Bisa Bertahan

Trans Koja Stop Operasional, DPRD Sayangkan Perusahaan Tak Bisa Bertahan

LAMPUKUNING.ID,KOTA JAMBI – Bus trans koja resmi menutup operasionalnya di Kota Jambi. Bus yang digadang-gadang untuk memperbaiki transportasi umum di Kota Jambi tersebut sudah ditarik oleh pengusahanya.

Hal itu diakui Kepala Dinas Perhubungan Kota Jambi, Saleh Ridho. Ia menyebutkan untuk trans koja memang sudah lama menghadapi kondisi sulit. Mereka sudah tidak beroperasional sejak awal pandemi covid-19 melanda Kota Jambi.

“Memang perusahaannya dalam kondisi sedang sulit. Ada beberapa hal yang menjadi masalah, termasuk di dalam perusahaan itu sendiri,” kata Saleh, kemarin (2/9).

Lanjut Saleh, perusahaan trans koja sudah menyampaikan laporan pada pihaknya dan juga sudah menarik unit kendaraan.

“Kita sudah komunikasikan juga kedepan prosesnya seperti apa. Setelah kondisi normal dari pandemi, kita bisa memulai untuk bagaimana trans koja ini bisa kembali beroparasi. Kondisi sekarang memang sulit, dibilang pailit, bisa juga disebut pailit. Intinya bis tayo itu tidak operasional di kota lagi, mereka sudah menarik unitnya,” tambahnya.

Jika pandemi sudah pulih dan kondisi negeri kembali normal sebut Saleh, maka pihaknya akan mengundang kembali pihak pengusaha trans koja untuk membicarakan hal tersebut.

Dengan tidak beroperasinya lagi bus trans koja tersebut, Saleh mengaku kerugian dari Pemerintah Kota Jambi yakni tidak tercapainya cita-cita untuk memperbaiki transportasi kota.

“Ini awalnya memang cita-cita kita untuk memperbaiki transportasi. Apalagi saat ini tengah digarap BUMD Siginjai Sakti yang juga nanti menaungi transportasi,” tuturnya.

Terkait hal tersebut, anggota Komisi III DPRD Kota Jambi Junedi Singarimbun mengatakan, pihaknya selaku DPRD sangat menyayangkan hal tersebut.

“Trans koja ini sudah dibuat sedemikian rupa dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, namun tidak bisa bertahan,” katanya.

Artinya sebut Junedi, masyarakat Kota Jambi tidak bisa berharap lagi transportasi massal umum yang baik bisa berkembang di kota.

“Ini jadi preseden buruk bagi kita,” katanya. Apa yang salah, apa dari sisi masyarakat atau kebijakan pemerintah. Tentu ini harus dipertanyakan,” tambahnya.

Diungkapkan Junedi, kebijakan yang dibuat pemerintah untuk trans koja menjadi pilihan angkutan umum masyarakat ternyata tidak berhasil dan gagal.

“Untuk mengurai kemacetan dan memperbaiki transportasi umum tidak mungkin lagi bisa. Karena ini sudah menjadi preseden buruk,” pungkasnya. (LK07)