Angka Kekerasan Anak di Kota Jambi Meningkat

Angka Kekerasan Anak di Kota Jambi Meningkat
Wakil Walikota Jambi Maulana saat menjadi narasumber pertemuan koordinasi lintas sektor pencegahan kekerasan terhadap anak tahun 2021 di Ruang Pola, Kamis (21/10/21)

Kajari : 300 Persen Kekerasan Anak Tidak Dilaporkan

LAMPUKUNING.ID,KOTA JAMBI- Angka kekerasan anak di Kota Jambi meningkat dari tahun ke tahun. Hanya pada 2019 data angka kekerasan anak mengalami penurunan. Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak tersebut dipengaruhi beberapa hal.

Bacaan Lainnya

Wakil Walikota Jambi, Maulana mengatakan pada tahun 2017 angka kekerasan anak yang dilaporkan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak (DPMPPA) Kota Jambi adalah sebanyak 40 kasus. Angkanya meningkat pada 2018 menjadi 56 kasus.

Pada 2019 angkanya turun jadi 32, lalu meningkat lagi tahun 2020 menjadi 53 kasus. Pada periode Januari hingga Oktober ini sudah tercatat sebanyak 58 kasus. Sementara menurut data dari Balai Pemasyarakatan (BAPAS), pada periode Januri hingga Oktober ini angka kekerasan terhadap anak mencapai 112 kasus.

“Itu yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan tentu lebih banyak. Kalau data dari BAPAS ini yang melakukan tindak pindana dan didampingi oleh BAPAS,” kata Maulana pada saat membuka sekaligus menjadi narasumber pertemuan koordinasi lintas sektor pencegahan kekerasan terhadap anak tahun 2021 di Ruang Pola, Kamis (21/10).

Maulana mengatakan pemerintah kota Jambi terus berkomitmen untuk mengurangi angka kekerasan terhadap anak melalui cara-cara yang preventif. Kata dia banyak kasus kekerasan anak di kota Jambi yang ditemui salah satunya adalah eksploitasi anak di bidang ekonomi, kekerasan seksual, hingga kekerasan fisik.

” Oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh stakeholder yang terkait komunitas-komunitas kita sama-sama berkomitmen untuk mengurangi persoalan ini,” ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa jika ada kasus maka masyarakat untuk Tidak segan melapor karena kota Jambi sudah memiliki UPTD bidang perlindungan perempuan dan anak. “Disitu ada kepolisian Kejaksaan hingga psikolog untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Lebih humanis,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jambi Fajar Rudi Manurung mengatakan, pada periode Januari sampai bulan Oktober tahun 2021 ini, pihaknya sudah menangani 39 perkara berkaitan kekerasan terhadap anak.

“Ini seperti fenomena gunung es, hampir 300 persen peristiwa kekerasan terhadap anak tidak dilaporkan,” kata Fajar Rudi.

Dia mengatakan, berbagai alasan dan masyarakat untuk tidak melaporkan hal itu diantaranya adalah masih dianggap tabu selain itu juga takut jika masa depan anaknya nya akan rusak jika masalahnya diketahui oleh orang lain.

“Misalnya nanti pada masa yang akan datang jika ada seseorang yang yang menyukainya dan orang tersebut tahu bahwa anak tersebut merupakan korban tindak kekerasan, terutama kekerasan seksual, dikhawatirkan orang yang menyukainya tadi tidak mau,” katanya.

Lalu alasan berikutnya adalah korban dari kekerasan tersebut diungsikan sehingga kasusnya tidak dilaporkan. Selain itu ada pula yang ditemui sudah berdamai, padahal itu tidak bisa menghapus perkara pidana.

Fajar Rudi juga meminta para guru di sekolah dan orang tua untuk terus memperhatikan tumbuh kembang anak. Sehingga tingkah lakunya bisa diketahui dan dicegah jika ingin melakukan tindakan pidana. (LK07)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *