Prabowo Subianto Sosok Petarung, Tantangan Terberatnya Kaum Milenial

Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra. Foto : Iwan tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK : Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto memberikan penjelasan dalam rapat kerja (Raker) dengan Komisi I DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (11/11/2019)

LAMPUKUNING.ID-Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto masih digadang-gadang untuk kembali maju dalam Pilpres 2024 mendatang. Menteri Pertahanan itu dinilai masih punya peluang. Meski tantangan yang bakal dihadapinya lebih berat. Salah satunya mengakomodir keinginan pemilih milenial.

“Prabowo memiliki kapabilitas, popularitas dan elektabilitas untuk jadi bakal calon, calon presiden/wakil presiden 2024. Bahkan sangat berpeluang menang Pilpres 2024 jika jeli menentukan pasangannya serta didukung koalisi pemerintah saat ini,” ujar pakar komunikasi politik Emrus Sihombing dalam diskusi virtual Menakar Peluang Prabowo pada Pilpres 2024, pada Jumat (24/9).

Menurutnya, merujuk Pilpres yang lalu, Prabowo pernah yang bersedia menjadi Cawapres pada 2009. Kemudian pada Pilpres 2014 dan 2019, maju sebagai Capres. “Prabowo termasuk orang yang rendah hati, tidak antikritik, dan suka membantu orang. Sebagai Ketua Partai, Prabowo memiliki modal politik jadi Capres,” papar Emrus.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Political and Policy Public Studies (P3S) Jerry Massie menyebut Prabowo Subianto adalah sosok petarung. Mantan Danjen Kopassus itu yang sudah punya pengalaman 3 kali bertarung di Pilpres. Dia sempat berpàsangan dengan Megawati Soekarnoputri, Hatta Radjasa, hingga Sandiaga Uno

“Ada 6 sisi penentuan seorang kandidat maju di pilpres. Yaitu mulai dari factor man, method, material, money, machine and manage (6 M). Masalah usia Prabowo masih ideal. Joe Biden (Presiden Amerika Serikat, Red) saja umur 78 tahun. Sementara dan Mahathir Muhamad berusia 80-an,” terang Jerry.

Dia mengatakan selama ini Prabowo tak tergusur di posisi atas. Sebagai Ketua Umum partai, Prabowo sukses mengirim 78 anggota DPR RI ke Senayan. Tak hanya itu. Partai Gerindra punyà pengaruh meski dari jumlah kursi di bawah Golkar dengan 85 ķursi. Posisi pertama diraih PDIP dengan 128 kursi.

“Nah dengan strategi politik yang kuat, bukan tidak mungkin Prabowo bisa menyalib lawan-lawannya. Seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil,” imbuhnya.

Jerry berpendapat, basis suara Gerindra seperti Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara dan Banten perlu tetap dijaga. “Tinggal sekarang bagaimana Prabowo berselancar di media sosial,” urainya.

Kalangan milter, lanjutnya, lebih berpeluang. Sebab, sudah ada 2 presiden dari militer. Yakni Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-6 Soesilo Bambang Yudhonyono (SBY). “Bicara empiris atau pengalaman, Prabowo lebih unggul dari kandidat lainnya,” tutup Jerry.

Pengamat politik Ubedilah Badrun menambahkan dalam perspektif politik, sebagai warga negara dan ketua umum partai politik Prabowo Subianto memiliki hak politik. Yakni mencalonkan diri sebagai capres pada pemilu 2024. “Tentu dengan memenuhi syarat Presidential Threshold 20 persen jika Undang-Undang Pemilu masih mensyaratkan Presidential Threshold,” timpal Ubedilah.

Selain itu, faktor keberhasilan kinerja Prabowo sebagai Menteri Pertahanan harus mampu melahirkan kebijakan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Yang tak kalah penting adalah kemampuan Prabowo memahami 52 persen generasi milenial dan generasi Z akan menjadi pemilih pada 2024. Merekalah yang akan menentukan hasil pemilu 2024 nanti,” terangnya.

Prabowo, lanjutnya, masih punya peluang pada 2024 mendatang. Namun, tantangannya cukup berat. “Saya pikir itu PR untuk Prabowo dan timnya dalam menghadapi pemilu 2024,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama Pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Indonesia (UI), Ade Reza Hariyadi mengatakan Prabowo masih sebagai capres paling potensial dibandingkan lainnya.

Prabowo punya modal yang lengkap. Mulai dari suara partai, pengalaman politik, sumber daya ekonomi, dan konstituen yang loyal. Tantangannya adalah bagaimana menjaga suara pemilih Gerindra dan suara Pilpres 2019.

“Selain itu, mencari pasangan cawapres yang dapat menciptakan koalisi politik yang efektif dan solid, serta menjaring dukungan dari pemilih generasi muda,” papar Reza Hariyadi.

Di samping itu, Prabowo dan Gerindra perlu merumuskan strategi yang aktual. Yakni disesuaikan dengan perkembangan struktur pemilih. Selanjutnya, membuat semacam peta jalan untuk mengatasi masalah-masalah kebangsaan. “Terutama utang luar negeri, lapangan pekerjaan, dan pengelolaan sumber daya alam. Ini penting sebagai alat transaksi gagasan dengan pemilih yang semakin rasional,” pungkasnya. (rh/fin)

Sumber :palpos.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *