Sekolah Akan Dibuka Setelah Kota Jambi Berada di Level III

Jasrul : Sekolah Daring Tidak Efektif, Guru Dituntut Lebih Optimal

Bacaan Lainnya

LAMPUKUNING.ID,KOTA JAMBI- Pemerintah kota Jambi berencana akan melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas. Namun rencana tersebut menunggu kota Jambi turun level ke posisi PPKM Level 3 (tiga).

Berdasarkan data update Covid-19 Kota Jambi Senin (30/8), kasus pasien positif Covid-19 yang masih dirawat ada sebanyak 758. Angka itu terus turun dibanding dengan hari sebelumnya yang berada diangka 790. Namun hingga 6 September nanti, Kota Jambi masih masuk daerah kategori Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level IV berdasarkan Inmendagri Nomor 36 tahun 2021.

“Kemungkinan pembelajaran tatap muka akan mulai dilakukan setelah Kota Jambi berada pada PPKM level 3. Kita akan buka kembali sekolah-sekolah dengan kapasitas 25 persen. Uji coba dulu, kalau sekolahnya siap, maka bisa ditingkatkan secara bertahap,” kata Walikota Jambi Syarif Fasha.

Sementara Ketua Komisis IV DPRD Kota Jambi Jasrul mengatakan, kondisi pendidikan di Kota Jambi saat ini menjadi keluhan para orang tua siswa.

“Para orang tua mengeluh menghadapi anak-anak di rumah karena kondisi sekolah daring ini,” kata Jasrul.

Kondisi lainnya sebut Jasrul, sekolah daring ini tidak efektif. Terkadang semangat guru dan murid jauh berbanding terbalik. Ia mencontohkan, terkadang guru sudah siap dengan pakaian rapi untuk memulai pembelajaran daring, namun kadang anak ada yang belum cuci muka.

“Itulah kondisi hari ini. Kalau untuk efektifitas jauh dari pembelajaran tatap muka,” katanya.

Kata Jasrul, dengan kondisi saat ini para guru harus lebih optimal memberikan tugas-tugas supaya anak tidak bosan. Para orang tua juga harus bisa bekerja sama dalam proses pembelajaran daring.

Pola pendidikan dengan belajar daring, Jasrul mengaku sangat berbeda dengan PTM. Saat PTM para siswa biasanya membuka buku, kini harus membuka HP.

“Sehingga tak jarang fokus anak cepat berubah, tidak fokus dan berlaih ke game dan lainnya,” sebutnya.

Jasrul mengharapkan, proses pembelajaran bisa segera dilakukan tatap muka meskipun secara bergantian dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Salah satu kelemahan daring ini adalah untuk mentransfer nilai-nilai ketauladan. Itu yang susah. Kadang untuk nilai-nilai itu tidak cukup dengan kata-kata, apalagi orangtua dirumah tidak bisa memberikan ketauladanan pada anak,” pungkasnya. (LK07)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *